ABSTRAKSI CERITA MERAIH IMPIAN
Tidak
mudah untuk menjadi sulung, aku merasakan beban kedua orang tuaku Ayah
selain sebagai PNS, juga terlibat aktif di dunia jurnalistik dan organisasi,
dan Bunda membuka sebuah warung kecil-kecilan. Kerja keras menjadi menu
wajib bagiku. Dua kali tangisku pecah ketika cita-citaku tak tersampaikanyaitu
ketika gagal masuk fakultas kedokterandan gagal mendaftar ke STPDN. Aku belajar
dari ketegaran bunda dalam menghadapi kesulitan hidup. Ayah memutuskan untuk
berhenti bekerja dan berorganisasi dan mulai melirik dunia usaha. Aku diterima
di jurusan bahasa Inggris, namun nendala finansial mendorongku untuk merambah
dunia kerja di samping kuliah. Aku dan Kak Ica mulai berbisnis pakaian dan
menuai hasil yang gemilang. Jaringan bisnisku meluas padatnya jadwal ceramah
ayah sebagai motivator menjadikan aku sebagai event organizer. Lahan bisnis ini
menuai sukses yang tergolong gemilang. Kesuksesan ini tidak patut membuatku
angkuh, terutama di hadapan Tuhan. Hanya karena ridha-Nya dan bimbingan dan
motivasi dari kedua orang tuaku turut membuatku tegar dalam berbagai kesulitan.
MENGONVERSI CERITA MERAIH IMPIAN
Terlintas kembali dalam
memori ingatanku akan kenangan yang begitu menyakitkan, dan begitu menggores
luka dihati mengundang akan amarahku, membuatku putus asa dan hilang harapan
untuk menggapai impianku. Namun aku mencoba untuk bangkit dan membuka mataku
selebar mungkin untuk melihat kedepan akan sebuah sukses yang sedang
menantikanku. Kesuksesan yang aku dapatkan karena dorongan ekonimi dan
kandasnya cita-citaku.
Aku terlahir dari keluarga
yang sederhana,hidup kami pas-pasan. Aku selalu mengingat lantunan kata yang
dituturkan oleh seorang laki-laki yang tak henti-hentinya untuk mengobarkan
semangatku. Hatiku terasa sesak,pedih yang sangat menusuk yang membuatku hampir
patah semangat Beban yang dirasakan oleh kedua orang tuaku tercinta dapat aku
rasakan, menjadi anak sulung tidaklah mudah bagiku.Ayah, di luar segala
kewajibannya sebagai PNS, terlibat aktif di dunia jurnalistik dan
organisasi. Tidak mengherankan jika bunda terpaksa turun tangan
untuk menopang keuangan keluarga dengan membuka sebuah warung
kecil-kecilan.
Padatnya aktivitas ayah dan
bunda terekam kuat dalam benakku. Kerja keras seakan menjadi menu wajib
bagiku. Namun, ada hal yang menjadi titik lemahkudan hampir
membuatku menjadi putus asa. Dua kali tangisku pecah ketika cita-citaku tak
tersampaikan. Pertama, ketika gagal masuk fakultas kedokteran karena
faktor biaya. Awalnya ketika mengikuti seleksi masuk UT, namaku ada pada kertas
pengumuman yang sangat menggembirakanku dengan sebuah kata”LULUS” , Namun
ketika kuhentakkan kakiku menuju ruang tamu menjumpai sang ibu dengan muka yang
begitu ceria sambil mengucapkan salam kepadanya.
Ibu :“sepertinya hati kamu sedang berbunga-bunga Nak”
Nanda :“iya bu... aku senang bangat bisa lulus di
fakultas kedokteran Bu”
Ibu :“Kita tak cukup uang untuk kamu masuk Fakultas Kedokteran.
Sabar ya, Nak!”
Nanda :“ia
Bu...mungkin Tuhan tidak mengizinkan saya berkarya di bidang ini,” (dengan
penuh rasa gunda dan kekecewaan yang sangat mendalam,air mataku pun bercucuran
yang nggak kurasa)
Kedua, ketika gagal
mendaftar ke STPDN karena tinggi badan kurang. Kegagalan itu tentu saja
membuatku terluka. Ayah dan bunda tiada putusputusnya membangkitkan
diriku hingga kedua kakiku benar-benar mampu berpijak.
Malam
berganti pagi,aku terbangun nggak kayak biasanya, sebelumnya aku bangun jam 4
subu untuk belajar tetapi pagi itu aku bangun jam 7. Kepedihan hati masih
terasa setiap terlintas dalam benakku kata-kata ibu kemarin. Pagi itu aku nggak
sarapan,sesudah mandi aku langsung pergi ke taman dekat rumahku tempat aku
ngumpul bareng sahabat-sahabatku . sesampai di sana aku duduk
bermenung,merenungkan masa depanku sperti apa jika nggak kuliah. Aku ngerasa
percuma prestasi yang kumiliki jika nggak kuliah,aku membayangkan masa depanku
yang mungkin suram. Tiba-tiba Dede datang menyapaku dengan penuh semangat dan
riang.
Dede :“ good morning friend”
Nanda :“yeahhhh good morning too” (tampak lesu lesu)
Dede :“ kamu kenapa sih ??? kok muram amat mukanya kamu ?”
Nanda :“ooohhh nggak
kok, tadi malam aku kurang tidur dan barusan nggak sempat sarapan Ded”
Nanda :“mmm... nggak biasanya kamu gini loh
Nand..!!!”
Dede : Oya, hasil tes fakultas kedokteran senin lalu
gimana pengumannya ?”
Nanda :“puji Tuhan
aku lulus Ded tapi orang tua aku nggak sanggup membiayaiku,makanya aku lagi
nggak mood skarang karena itu” tuturku sambil mencucurkan air mata,aku nggak
tau harus melangkah kemana ”
Dede :“kamu yang
sabar yahh Nand,kamu harus yakin bahwa tidak semua apa yang kita ingikan itu
yang diinginkan oleh Tuhan,kita manusia Cuma merencanakan aja Nand,kamu harus
yakin kalau dibalik semua ini Tuhan punya rencana yang terbaik untukmu
Sahabatku”
Nanda :“makasih yah
Ded, kamu udah menghiburku, kamu memang sahabatku yang baik yang selalu ada
buatku saat apapun itu “
Dede :“yukk...
kita makan di warung sebelah ntar aku yang traktir,kamu kan belum makan yahhh
???..
Nanda :“ockey”
Kegagalanku
itu bukan karena aku nggak mampu secara otak tetapi karena biaya untuk meraih
impianku itu nggakmemungkinkan untuk itu .Untuk mengobati luka hatiku,
kuputuskan untuk membantu bunda menjaga warung.
Nanda :“Bu, ni dah larut malam loh ???
Ibu :“ ia nak, kamu tidur duluuan aja ya, sebentar lagi kok”
Nanda :“sini aku bantuin ya Bu,biar cepat selesai dan
kita titip di tokonya Mrs.Jou”
Nanda :“kamu sangat baik dan memiliki hati yang tulus
nak, ibu amat bangga padamu
Sambil menjaga warung, sedikit
demi sedikit belajar dari ketegaran bunda dalam menghadapi kesulitan hidup.
Sering bunda tidur larut karena harus menyambung potongan perca menjadi sebuah
bed cover untuk dijual. Bed cover itu dititipkan di sebuah toko swalayan milik
Mrs.Jou, Tiada pernah putus doaku kepada Sang Mahakuasa agar bunda
senantiasa dikaruniai kesehatan lahir dan batin karena dia adalah harta yang
paling berharga dalam hidupku.
Salah satu doaku dijawab
oleh Tuhan. Suatu hari ayah memutuskan untuk berhenti bekerja dan berorganisasi.
Ayah mulai melirik dunia usaha.Sebagai langkah awal, ayah melahap
buku-buku sederet profil pengusaha sukses, sebut saja Bob
Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, Richard Branson, Donald Trump, dan
Elang Gumilang. Dari buku-buku itu kulihat sang Ayah sangat terinspirasi dan
mulai tumbuh benih pohon bisnis dalam dirinya, kulihat semangat Ayahku yang
sangat membara benih pohon bisnis tumbuh pesat pula dalam
diriku, terlebih setelah aku menyerap isi beberapa buku yang menyampaikan
motivasi.
Dari dua kegagalan yang
kualami perlahan-lahan terhapus dari dalam benakku dan membuatku belajar dari
setiap kegagalan itu.kegagalanku berakhir ketika aku diterima di sebuah
universitas jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan
sepenuh hati dan penuh harapan. Kendala finansial mendorongku untuk merambah
dunia kerja di samping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica,
saudara sepupuku, datang kepadaku,
Kak Ica:“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang
dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu”
Nanda :“iya kak, aku mau patungan denganmu,tapi kita
mau jual apa disana?’’
Kak Ica:“kita akan jual
pakaian yang lagi ngetren sekarang ,Nand,”
Nanda :“ooh iya kak,
aku setuju banget tuh kak, kapan kita pergi menyampaikan niat kita ini kak ?”
Kak Ica:“mmm... kamu minta
izin dululah pada orang tua kamu Nand,”
Sorenya kuberlari ke warung
dimana Bundaku sedang menjual,kusampaikan niatku itu dan puji Tuhan Bundaku
setuju dan berkat doa dan ridah darinya semuanya berjalan dengan baik.
Sebelumnya ndak pernah terlintas dalam benakku bisa berbisnis, dan tak bisnis
itu menuai hasil yang gemilang. Suatu hari sepulang kuliah tak kusangka Bunda
berkunjung ke tokoku,
Nanda :“ selamat sore Bu, kok tumben-tumbenan Bunda
berkunjung ?”
Ibu :“iya Nak,
dari kemaren sebenarnya Bunda ingin sekali datang melihat usaha kamu, ternyata
Nanda sudah meraup banyak untung nih”sahut Ibu dengan bangga’’
Nanda :“nggak kok Bu
ini hanyalah usaha keci-kecilan disamping kuliah Bu”sahutku dengan raut wajah
yang ceria”
Kesibukan berbisnis tidak
melemahkan prestasi di ranah akademis. Aku berhasil mempertahankan
semuanya dengan hasil yang memukau. Seiring berjalannya waktu , jaringan
bisnisku pun meluas. Aku telah diwisuda dan aku pulang kerumah,dari jauh
kulambaikan tanganku kepada sang Ayah, aku menjumpai Ayahku yang telah
siap-siap untuk pergi mengadakan ceramah,
Nanda : “selamat siang Ayah, gimana kabar Ayah ??? “
Ayah :“seperti yang kamu lihat Nak, beginilah keadaan Ayah”
Nanda :“Ayah mau kemana ???”
Ayah :“Woooww.... Ayah hebat,aku bisa ikut nggak Yah ???”
Nanda :“Ayah mau pergi ceramah Nak,”
Ayah :“ooo iya Nak, kamu ikutan aja,mungkin kamu bisa bantuin Ayah”
Mendengarnya aku buru-buru
ganti baju yang pantas dipakai dan langsung berangkat bersama sang Ayah.
Ternyata begitu padatnya jadwal ceramah san ayah sebagai motivator mendorongku
untuk membantunya. Jadilah aku berkiprah dalam dunia event
organizer. Lahan bisnis ini menuai sukses yang tergolong gemilang. Hari demi
hari jaringan konsumen luas semakin membuka peluang untuk berkiprah
di bidang lain. Aku pun mencoba untuk membuka usaha penjualan tiket
pesawat,bisnis ini pun kulakoni hingga membuahkan beberapa
kantor cabang di berbagai kota di negeri yang tercinta ini.
Suatu hari aku berjumpa
dengan sahabat lamaku di bandara, aku baru pulang dari amerika dan dia pulang
dari jerman karena dia telah menjadi dokter terkenal disana. Kami menikmati
makan siang,melepaskan rindu yang udah lama nggak bertemu . kami berbagi
berbagai pengalaman hidup yang membuat kami tertawa beria-ria sambil mengucap
syukur kepada Yang Mahakuasa telah mempertemukan kami kembali, kehidupanku
dengan Dede bagaikan sepatu dan talinya yang nggak bisa dipisahkan. Meskipun
sering chatingan di media massa kayak : tweetter,facebook,wechat,instagram dan
lain sebagainya tetapi tak seperti trasanya ketika kita berjumpa dengan tatapan
empat mata
Dede :“Kamu tampaknya semakin dewasa kilihatannya Nand”
Nanda :“makasih banyak Dede, tapi kayaknya itu Cuma
feelingnya kamu aja dehh sobat”
Dede :“hehe, kenyataannya begitu cantik, oya bagaimana pekerjaan kamu
sekarang ?”
Nanda :“Puji Tuhan
semuannya berjalan dengan baik Sobat, aku sangat bersyukur kamu selalu ada
buatku”
Dede :“ yoweslah...aku bahagia bangat mendengarnya, teruslah berkarya
Sobatku”
Nanda :“Makasih
Sobat, tanpamu aku nggak akan bisa ngeraih impianku, aku salut sama kamu dengan
profesimu saat ini yang begitu memukau” sahutku dengan bangga”
Kesuksesan ini tidak patut
membuatku angkuh dan merasa sombong terutama di hadapan Tuhan.Hanya karena
Penyertaannya aku dapat meraih semuanya. Kegagalan demi kegagalan aku lewati
dengan harapan yang nggak pernah pupus,terus mencoba dan terus mencoba adalah
sesuatu yang udah biasa ku alami, kegagalan yang kualami kupandang sebagai
kegagalan yang tertunda. Seorang sahabat yang terus memotivasiku dengan tulus,
tidak luput bimbingan dan motivasi dari kedua orang tuaku turut membuatku tegar
dalam berbagai pergumulan hidupku hingga ku menjadi seorang
wirausaha yang sukses.